pimpinan

pimpinan

Monday, July 29, 2013

 Tertanggal 10 Mei - 20 Mei 2011 awal kisah saya tau apa arti sesungguhnya suatu perjuangan hidup untuk umat. pengabdian yang slama ini saya lalui di atas puing-puing keterkekangan yang semakin ruyam dalam kreatifitas yang ku lalui.
prespektif dari setiap insan dalam menilai arti sesungguhnya suatu perjuangan dalam zaman modern ini sangat minim. kekolottan dari berbagai pihak yang menentang anak-anak muda untuk berkarir dalam tubuh ikatan selalu dipermasalahkan.
sungguh menjadi suatu tantangan yang amat besar yang terjadi dalam tubuh Ikatan untuk meyakinkan Pihak-pihak yang belum begitu mendukung adanya Organisasi yang menjadi aspresiasi pelajar diranah daerah. minimnya seorang kader ikatan untuk menegakkan terwujudnya tujuan utama organisasi menjadi hambatan yang paling utama. 

Disinilah awal kisah dimulainya saya mendapatkan suatu pencerahan dari temen-temen seperjuang dalam menyikapi problematika yang terjadi dlam tubuh ikatan, berbagai solusi dan kritikan kuterima. Pahit, masam, asin, pedas semuanya ada disini. tiada disangka dari sini saya mengetahui bahwa menjadi seorang kader yang sejati tidak gampang, harus melewati berbagai rintangan, cercaan, makian, bahkan sampai fitnah. semua itu bisa dilalui dengan besar hati.
Bahkan ada yang bilang " jika kamu ingin menjadi seorang pemimpin harus bisa mengetahui dan memperhatikan lingkungan di sekitar mu", awalnya saya kurang mengerti dengan pernyataan ini.setalah berfikir panjang untuk memacahkan kalimat ini akhirnya tiada kusadari terjawablah sudah dengan sendiri untuk bisa memperhatikan siapa saja yang ada disekeliling kita dalam melakukan tindakan untuk berjuang.

Thursday, July 25, 2013

Sejarah Narkoba


Mendengar kata Narkoba pasti yang mampir dibenak kita adalah seputar ganja, heroin, opium, exctasy, putau dan 'ganknya', barang-barang laknat penghancur masa depan bahkan disebut-sebut sebagi perusak generasi paling mujarab. Lalu apa narkoba itu sendiri? pernahkah kita mencoba mengenalnya dari dekat, dari sisi keilmuan ataupun dari sisi psikoligis bukan hanya pendekatan secara fisik.
Mengutip istilah dalam ensiklopedia, sebenarnya kata narcotic secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yang artinya kelenger, merujuk pada sesuatu yang bisa membuat seseorang tak sadarkan diri (fly), sedangkan dalam bahasa Inggris narcotic lebih mengarah ke konteks yang artinya opium (candu).
Dalam bahasa kita Narkoba adalah kependekan dari narkotik dan bahan berbahaya. Namun benarkah Narkoba begitu berbahaya? Dari sisi medis, narkoba bukan sesuatu yang mengancam jiwa, narkoba hanya satu dari beberapa alternatif 'obat' untuk mengobati rasa sakit. Sejak awal peradaban manusia, narkoba atau dulu lebih tenar dengan sebutan 'candu' sudah digunakan sebagai salah satu terapi pengobatan.

Persebaran Flora dan Fauna di Indonesia


Curah hujan yang cukup tinggi di daerah tropis mengakibatkan suburnya berbagai jenis tanaman. Oleh karena itu, daerah  tropis dikenal sebagai  kawasan hutan belukar yang bukan saja  menyimpan berbagai potensi kekayaan alam, melainkan juga berperan sebagai paru-paru dunia.
1. Persebaran flora di Indonesia
Indonesia memiliki beraneka ragam jenis tumbuhan. Iklim memiliki pengaruh yang sangat besar, terutama curah hujan dan suhu udara. Pengaruh suhu udara terhadap habitat tumbuhan di Indonesia telah dikenal dengan klasifikasi Junghuhn, seorang ahli botani asal Jerman yang membagi jenis tumbuhan berdasarkan ketinggian tempat.

Tuesday, July 23, 2013

Studi Teologi Islam


A.    Latar Belakang
Dalam menjalani kehidupan suatu hal yang kita mantapkan adalah aqidah/kayakinan kepada allah SWT. Rasanya aktifitas sehari-hari tak ada gunanya jika tidak di dasari dengan keimanan yang kuat. Dalam kajian ini kita telah mengenal Teologi Islam yang membahas tentang pemikiran dan kepercayaan tentang ketuhanan. Teologi Islam ini sudah sepantasnya kita ketahui agar dalam menjalani kehidupan ini kita mengetahaui dan menjadi Idealnya orang Islam. Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menjumpai perbedaan-perbedaan pemikiran dan aqidah yang mengiringi, dan kita harus pandai dalam memilih dan memilahnya dengan berlandaskan Al-qur’an dan Al-hadist. Perlu kita mengingat apa yang pernah di katakan oleh Rasulullah bahwa “ umatku akan berpecah menjadi tujuh pulu tiga dan hanya satu yang benar.”
Perbedaan pemikiran tersebut membuat mereka saling menyalahkan,  antara lain yang kita ketahui adalah: Ahlussunnah Wal Jama’ah, Mu’tazilah Qodariyah dll. Yang semuanya memiliki pendapat masing-masing tentang Tauhid/keyakinan atau tentang hal ketuhanan. Dan kita sebagai orang yang memegang agama allah harus mengetahui manakah pemikiran yang benar dal yang salah, dalam memandangnya kita harus berpegang teguh pada Al-qur’an dan Al-hadist. Hal ini merupakan hal penting yang harus di pelajari agar apa yang menjadi keyakinan kita tentang Allah tidak salah, dan seaandainya apabila keyakinan kita salah tentang-Nya maka kita bisa saja kita di anggap orang keluar agama Islam.
Sebelum mengenal teologi Islam, kita terlebih dahulu mengenal istilah atau ilmu filsafat islam dan tasawuf. Dan kesemuanya itu memiliki hubungan khusus. Dalam makalah ini akan dijelaskan secara ringkas mengenai studi teologi islam baik meliputi Pengertian teologi islam, Ruang lingkup studi islam, Sumber-sumber Teologi Islam, dll.

Teologi Islam



Studi Teologi Islam disebut juga ‘ilm al kalam, teolog dalam Islam diberi nama mutakallimin yaitu ahli debat yang pintar memakai kata-kata.  Secara terminologi teologi Islam atau yang disebut juga Ilmu Kalam adalah ilmu yang membahas ushul sebagai suatu aqidah tentang keEsaan Allah swt, wujud dan sifat-sifat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan sebagainya yang diperkuat dengan dalil-dalil aqal dan meyakinkan.
Teologi, sebagai mana diketahui membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Setiap orang yang ingin menyelami seluk beluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan berdasarkan pada landasan yang kuat, yang tidak mudah diumbang-ambing oleh peredaran zaman. Istilah “Theology Islam” sudah lama dikenal oleh penulis-penulis Barat. Teologi dari segi etimologi mempunyai pengertian “Theos” artinya Tuhan dan “Logos” artinya ilmu (science, studi, discourse). Jadi teologi berarti ilmu tentang Tuhan atau ilmu “Ketuhanan”.[1] Selanjutnya teologi Islam disebut juga ‘ilm al kalam, teolog dalam Islam diberi nama mutakallimin yaitu ahli debat yang pintar memakai kata-kata.[2]
Secara terminologi teologi Islam atau yang disebut juga Ilmu Kalam adalah ilmu yang membahas ushul sebagai suatu aqidah tentang keEsaan Allah swt, wujud dan sifat-sifat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan sebagainya yang diperkuat dengan dalil-dalil aqal dan meyakinkan.[3] Teologi lebih luas pandangannya dari pada fikih. Kalau fikih membahas soal haram dan halal, teologi di samping soal ke Tuhan-an membahas pula soal iman dan kufur; siapa yang sebenarnya Muslim dan masih tetap dalam Islam, dan siapa yang sebenarnya kafir dan telah keluar dari Islam. Termasuk dalam pembahasan itu soal Muslim yang mengerjakan hal-hal yang haram dan soal kafir yang mengerjakan hal-hal yang baik. Dengan demikian teologi membahas soal-soal dasar dan soal pokok dan bukan soal furu’ atau cabang dan ranting yang menjadi pembahasan fikih. Dengan demikian tinjauan teologi akan memberi pandangan yang lebih lapang dan sikap yang lebih toleran dari tinjauan hukum atau fikih.[4]

“ Menumbuhkan Kesadaran Kritis, Mendorong Aksi Kreatif dikalangan Pelajar ”


  1. Pendahuluan
IPM kini telah berusia lebih dari setengah abad. Ini menandakan bahwa telah banyak sejarah yang telah ditorehkan oleh IPM. Tidak hanya itu, IPM juga telah melahirkan tokoh-tokoh besar di negeri ini. Hal ini menunjukkan bahwa IPM tidak hanya berkontribusi pada Muhammadiyah tetapi juga bangsa Indonesia.
Sejak IPM lahir sampai sekarang telah banyak proses dinamika yang dialami oleh IPM. IPM sebagai gerakan Dakwah dikalangan pelajar selalu dihadapkan dengan problematika yang beragam disetiap masanya. Disaat IPM lahir IPM dihadapkan pada kandisi merebaknya ideology komunis. Diera orde baru IPM dihadapkan pada kebijakan pemerintah yang melarang adanya organisasi pelajar disekolah kecuali OSIS, sehingga IPM harus merubah menjadi IRM pada tahun 1992. Pasca Reformasi IRM akhirnya kembali merubah nama menjadi IPM, pada saat inilah basis masa IPM yang sebelumnya Remaja menjadi Fokus pada Pelajar.

  1. Paradigma Gerakan IPM
Dengan tantangan yang berbeda-beda dari masa ke masa itulah mempengaruhi gerak langkah perjuangan IPM. Gerak langkah perjuangan IPM ini dikelompokkan ke dalam 3 corak yaitu corak ideologis, gerakan social, dan corak populis. IPM sebagai gerakan ideologis serta penanaman nilai-nilai keislaman serta pembentukan karakter diri kader dengan jargon 3T ( tertib ibadah, tertib beroganisasi, dan tertib belajar ). Adapun corak IPM sebagai gerakan social adalah Dalam setiap problematika masyarakat khusunya pelajar melalui Gerakan Sosial berarti menggunakan eksistensinya IPM. Dalam konteks ini massifikasi advokasi yang selama ini dilakukan IPM adalah tidak mungkin bagi IPM hanya berkutat di bangku sekolah dan di balik buku saja dalam upaya menegakkan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Tanpa terjun langsung mendampingi dan melihat realitas masyarakat secara langsung. Yang ditandai dengan jargon 3P ( Penyadaran, Pemberdayaan, dan Pembelaan ) yang sering disebut oleh IPM sebagai paradigma Kritis Tranformatif.
    1. Corak Ideologis
Corak ideologis dengan 3T pada dasarnya mengajarkan kepada kita agar sebagai kader persyarikatan secara personal memegang teguh kepribadian tertib dalam beribadah, berorganisasi dan belajar. Dengan demikian kader IPM adalah kader yang berkepribadian tertib dalam ibadah, berorganisasi dan belajar.
    1. Corak gerakan social
Corak gerakan social pada dasarnya merupakan langkah lanjutan bahwa setelah membentuk pribadi yang berkarakter 3T, IPM mendorong para kadernya untuk memiliki kepekaan social, peka akan realitas dengan cara membangun kesadaran kritis.
    1. Corak populis
Corak populis merupakan Upaya agar para kader memiliki kreatifitas sehingga dalam melakukan proses perubahan dalam masyarakat selalu didengarkan dengan strategi yang kreatif, yang melahirkan Gerakan Pelajar Kreatif dengan demikian perubahan yang dilakukan tidak menimbulkan permasalahan baru.

Menumbuhkan kesadaran kritis dilakukan dengan memberikan pemahaman kepada pelajar bahwa dunia bukanlah tatanan yang tertutup dan statis, realitas social tidak given (apa adanya). Artinya dunia dan realitas social dapat diubah dan kewajiban seluruh menusia sesuai kodratnya sebagai khalifah di bumi ini.
Mendorong aksi kreatif dapat dimaknai sebagai manifestasi terhadap kesadaran kritis tersebut. Oleh karena itu IPM melakukan aksi-aksi kreatif sebagai langkah untuk melakukan proses perubahan. Dengan aksi-aksi kreatif ini diharapkan IPM dapat merubah dunia menuju yang lebih baik.




  1. 3T ( Tertib Ibadah, Tertib Organisasi, dan Tertib Belajar) Merupakan Corak Ideologi
Corak Ideologis dengan 3T ( Tertib Ibadah, Tertib Organisasi, dan Tertib Belajar ) pada dasarnya mengajarkan kepada kita agar sebagai kader IPM secara personal memegang teguh kepribadian tertib dalam beribadah, berorganisasi dan belajar. Dengan demikian kader  IPM adalah kader yang berkepribadian tertib dalam ibadah, berorganisasi dan belajar.
Penanaman nilai-nilai keislaman serta pembentukan karakter diri kader dengan jargon 3T ( tertib ibadah, tertib beroganisasi, dan tertib belajar )
1.      Tertib Ibadah
Upaya untuk membina pelajar menjadi pribadi-pribadi muslim yang sebenar-benarnya: bertauhid murni, berakhlak mulia, beribadah dengan tertib, dan bermu’amalat duniawiyah sesuai ajaran Islam.
2.      Tertib Organisasi
Upaya untuk menjadi organisasi yang solid dengan system yang baik, semua aktifitas dan dinamikanya diarahkan menuju terwujudnya tujuan organisasi.
3.      Tertib Belajar
Upaya untuk membina para pelajar agar dapat menyelesaikan tugas belajar mereka dengan baik.

  1. Gerakan Kritis Tranformatif Sebagai Paradigma Gerakan Sosial
Paradigma yang bersifat structural dimana masalah social tidak berasal dari kelemahan cultural, kesalahan manusia melainkan sebagai akibat adanya ketidak adilan dalam relasi antara pelaku dalam dunia sosial kemasyarakatan.
Gerakan Kritis Tranformatif mengusung 3 jargon yaitu 3P ( Penyadaran, Pemberdayaan, dan Pembelaan ).
1.      Penyadaran
Upaya memberikan penyadaran kepada setiap pelajar bahwa dunia bukanlah sesuatu yang terjadi tiba-tiba atau datang dari tuhan tetapi ada peran manusia dan juga system social yang berperan.
2.      Pemberdayaan
Upaya membangun hubungan yang partisipatoris. Setelah menyadarkan pelajar bahwa realitas dunia bukan sesuatu yang statis bukan semata-mata takdir dan bukan semata-mata kesalahan mereka kemudian yang perlu dilakukan adalah mendorong mereka agar berdaya artinya memberi kesempatan kepada mereka untuk berekspresi dan mencurahkan segala potensi.
3.      Pembelaan
Bentuk keterlibatan secara langsung dalam usaha mengubah dunia dan melakukan perubahan social.

  1. Gerakan Pelajar Kreatif sebagai Corak Gerakan Populis
Suatu kemampuan seseorang utuk melahirkan sesuatu yang baru dan unik, baik berupa gagasan maupun karya nyata bahkan dalam bentuk karya baru atau kombinasi terhadap hal-hal yang sudah ada. Dalam proses mengembangkan strategi kreatif ini ada 3 komponen yang dikembangkan yaitu person, proses dan produk. Tahap awal yang dilakukan dalam strategi ini adalah mengembangkan proses-proses kreatif. Tahap kedua melalui proses kreatif dimanfaatkan untuk menumbuhkan person-person kreatif, person-person kreatif inilah yang akan melahirkan produk-produk kreatif.

  1. Penutup
Sebagai satu kesatuan yang terpadu kiranya IPM harus memperkuat leading sector dalam menyelesaikan problematika yang ada. Leading sector inilah yang menjadi garda depan gerakan IPM. Sedangkan corak keilmuan IPM tidak lepas dari kristalisasi prinpsip Kritis Tranformatif yang menjadi patron bagi pelajar dalam menggapai realitas secara ilmiah.

Friday, July 5, 2013

Proses

Ada definisi klasik yang mengatakan bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses yang olehnya seseorang mempengaruhi orang lain untuk memenuhi sesuatu yang obyektif dan mengatur organisasi sehingga membuatnya lebih kohesif dan koheren. Para pemimpin dalam proses ini mengaplikasikan atribut-atribut kepemimpinanya, seperti kepercayaan, nilai, etika, karakter, pengetahuan, dan keterampilan. Definisi klasik itu menggaris-bawahi bahwa menjadi seorang pemimpin yang baik bukanlah faktor hereditas atau bakat. Jika memiliki hasrat dan keinginan yang kuat, siapa pun bisa menjadi pemimpin yang efektif. tapi pemimpin yang baik berkembang melalui sebuah proses belajar dan pengalaman.

Perspektif lama dan awam mengartikan pemimpin sebagai yang terdepan, terkemuka, berkedudukan, memiliki nilai paling baik, didukung oleh suara terbanyak dan menduduki rangking pertama dalam persaingan. Tetapi dalam perspektif yang baru menurut Peter Urs Bender, kepemimpinan berkaitan dengan beberapa elemen utama, yakni: manusia sebagai individu, manajemen diri, motivasi internal, tekad kesempurnaan dan penerimaan kelemahan diri, perubahan, kepercayaan diri, perkembangan, energi, pengalaman positif, hasil, dan pengharapan.

Pemimpin berjuang keras mengikuti jalan proses menuju kepemimpinan sejati yang andal, bahwa pemimpin yang terlahir dari jalan proses yang panjang akan memiliki kekuatan dalam bentuk kedewasaan pikiran dan perasaan yang hebat. Dia selalu menjadi pribadi pembelajar yang setia dengan pikiran, perasaan, dan tindakan positif.

Pemimpin yang hebat tidak akan duduk tenang sambil memerintah melalui kekuatan hierarki jabatan, tapi dia memimpin dengan sikap yang tegas, lugas, dan jelas. Lalu, melalui kekuatan pikiran positif menggerakkan kekuatan orang lain melalui sistem dan kultur yang memberi ruang kebebasan, untuk bertindak dalam batas – batas tanggung jawab yang telah disepakati bersama.

pemimpin yang baik yang diciptakan oleh sistem melalui proses yang panjang.

Pemimpin berjuang keras mengikuti jalan proses menuju kepemimpinan sejati yang andal, bahwa pemimpin yang terlahir dari jalan proses yang panjang akan memiliki kekuatan dalam bentuk kedewasaan pikiran dan perasaan yang hebat. Dia selalu menjadi pribadi pembelajar yang setia dengan pikiran, perasaan, dan tindakan positif.

Pemimpin yang hebat tidak akan duduk tenang sambil memerintah melalui kekuatan hierarki jabatan, tapi dia memimpin dengan sikap yang tegas, lugas, dan jelas. Lalu, melalui kekuatan pikiran positif menggerakkan kekuatan orang lain melalui sistem dan kultur yang memberi ruang kebebasan, untuk bertindak dalam batas – batas tanggung jawab yang telah disepakati bersama.

pemimpin yang baik yang diciptakan oleh sistem melalui proses yang panjang.]