PENDAHULUAN
Filasafat Islam di bagian Timur Dunia Islam (Masyriqi)
berbeda dengan filsafat Islam di Maghribi ( bagian Dunia Barat). Di
antara filosof Islam di kedua kawasan terdapat sebuah perselisihan pendapat
tentang berbagai pokok pengertian. Di Timur ada filosof terkemuka,
al-Kindi, al-Farabi dan Ibnu Sina. Di Barat juga ada filosof terkemuka, Ibnu Bajah,
Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd.
Wajar saja jika filososf filsafat Islam muncul
terlebih dahulu di bagian Timur sebelum di bagian Barat. Sebagai akibat adanya
peradaban yang berpusat di Syam dan Persia setelah sebelumnya berpusat di
Athena dan Iskandariyah. Setelah Islam datang, orang Arab menguasai daerah
Persia, Syam, dan Mesir. Kemudian pusat kekhalifaan pindah dari Hijaz (Madinah)
ke Damaskus (Syam), sebuah kota yang yang dari politik menjadi pusat kekuasaan
Bani Ummayah. Pada masa itu muncul dua kota besar memaminkan peranan penting
dalam sejarah pemikiran Islam, yaitu Bashrah dan Kufah.
Di dalam suasana kehidupan politik dan pemikiran
sedang berkembang pesat, muncullah seorang filosof Arab atau filosof Islam:
Ya’qub bin Ishaq al- Kindi. Dia seorang filosf peradaban Islam pada abad ke-3
Hijriyah.
Pemikiran
yang berkembang dalam filsafat Islam memang didorong oleh pemikiran filsafat
Yunani yang masuk ke Islam. Namun, hal itu tidak berarti bahwa filsafat Islam
adalah nukilan dari filsafat Yunani. Filsafat Islam adalah hasil interaksi
dengan filsafat Yunani dan yang lainnya.
Al-Farabi
adalah penerus tradisi intelektual al-Kindi, tapi dengan kompetensi,
kreativitas, kebebasan berpikir dan tingkat sofistikasi yang lebih tinggi lagi.
Jika al-Kindi dipandang sebagai seorang filosof Muslim dalam arti kata yang
sebenarnya, Al-Farabi disepakati sebagai peletak sesungguhnya dasar piramida
studi falsafah dalam Islam yang sejak itu terus dibangun dengan tekun. Ia
terkenal dengan sebutan Guru Kedua dan otoritas terbesar setelah panutannya
Aristoteles. Ia termasyhur karena telah memperkenalkan dokrin “Harmonisasi
pendapat Plato dan Aristoteles”. Ia mempunyai kapasitas ilmu logika yang
memadai. Di kalangan pemikir Latin ia dikenal sebagai Abu Nashr atau Abunaser.
A. Al-Kindi
1. Sejarah hidup dan karyanya
Al-Kindi adalah seorang filsuf besar pertama Arab dan
Islam.Nama lengkap al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya`qub ibn Ishaq ibn Shabbah ibn
Imran ibn Isma`il ibn Muhammad ibn al-Asy’ath ibn Qais al-Kindi. Nama al-Kindi
berasal dari nama salah satu suku Arab yang besar sebelum Islam, yaitu suku
kindah.
Al-Kindi dilahirkan di Kufah sekitar tahun 185 H/801
M. Ia berasal dari sebuah keluarga pejabat, kaya dan terhormat. Ayahnya bernama
Ibnu Al-Sabah. Sang ayah pernah menduduki jabatan Gubernur Kufah pada era
kepemimpinan Al-Mahdi (775-785) dan Harun Ar-Rasyid (786-809). Ayahnya
meninggal ketika ia masih kanak-kanak namun ia masih tetap memperoleh
kesempatan untuk menuntut ilmu dengan baik. Kakeknya Asy’ats bin Qais dikenal sebagai
salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Bila ditelusuri nasabnya, Al-Kindi
merupakan keturunan Ya’rib bin Qathan yang berasal dari daerah Arab bagian
selatan dan dikenal sebagai raja di wilayah Kindah. Al-Kindi hidup di era
kejayaan Islam Baghdad di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari
lima periode khalifah dilaluinya yakni, Al-Amin (809-813), Al-Ma’mun (813-833),
Al-Mu’tasim, Al-Wasiq (842-847) dan Mutawakil (847-861).
Pendidikan al-Kindi pada waktu kecil tidak banyak
diketahui. Ada rieayat yang menerangkan bahwa al-Kindi pernah belajar di Basrah
sebuah pusat studi bahasa dan teologi Islam. Kemudian ia menetap di Baghdad,
ibu kota kerajaan Bani Abbas, yang juga sebagai jantung kehidupan intelektual
pada masa itu. Dia dikenal berotak encer, tiga bahasa penting dikuasainya,
yakni Yunani, Suryani, dan Arab. Sebuah kelebihan yang jarang dimiliki orang
pada era itu. Ia sangat tekun mempelajari berbagai disiplin ilmu. Oleh karena
itu, ia dapat menguasai ilmu filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi,
geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik dan meteorology.
Penguasaanya terhadap filsafat dan ilmu lainnya telah menempatkan ia menjadi
orang Islam pertama yang berkebangsaan Arab dalam jajaran para filosof
terkemuka. Karena itu pulala ia dinilai pantas menyandang gelar Failsuf
al-‘Arab (Filosof berkebangsaan Arab).
Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai
ilmu, menyebabkan dirinya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah
juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitul Hikmah (House of Wisdom) yang
kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa,
seperti Yunani. Ketika Khalifah Al-Ma’mun tutup usia dan digantikan puteranya,
Al-Mu’tasim, posisi Al-Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang
besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi puteranya.
Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat
peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan
sebagai paham resmi kerajaan. Menurut
Al-Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di
Baitulhikmah, Al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah
pikirannya dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan.
Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang
berilmu pengetahuan yang luas dan dalam.
Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang,
seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis,
astrologi, dialektika, psikologi, politik dan meteorologi. Bukunya yang paling
banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing
mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul.
Buah pikir yang dihasilkannya begitu berpengaruh
terhadap perkembangan peradaban Barat pada abad pertengahan. Karya-karyanya
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan bahasa Eropa. Buku-buku itu tetap
digunakan selama beberapa abad setelah ia meninggal dunia.
Al-Kindi dikenal sebagai filosof Muslim pertama,
karena dialah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat. Hingga
abad ke-7 M, filsafat masih didominasi orang Kristen Suriah. Al-Kindi tak
sekedar menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani, namun dia juga menyimpulkan
karya-karya filsafat Helenisme. Salah satu kontribusinya yang besar adalah
menyelaraskan filsafat dan agama.
Pada masa pemerintahan Al-Muatawakkil, khalifah yang
mengakhiri masa kejayaan aliran Muktazilah, al-Kindi mengalami nasib yang tidak
menguntungkan, ia dipecat dari berbagai jabatan yang dipercayakan kepadanya. Jabatannya sebagai guru besar di istana
diambil alih oleh putra-putra Musa yang juga tergolong ilmuwan, walaupun tidak
sepopuler al-Kindi. Suatu ketika putra-putra Musa merampas perpustakaan
al-Kindiyah, milik pribadi al-Kindi, tetapi pada akhirnya pustaka tersebut
dikembalikan kepada al-Kindi.
Tentang kapan al-Kindi meninggal tidak ada suatu
keterangan pun yang pasti. Dalam buku Min Al-Kindi ila Ibn Rusyd karangan
Musa Al-Musawi seperti yang dikutip oleh Sirajudin Zar mengatakan bahwa
Musthafa Abd Al-Raziq cenderung mengatakan tahun wafatnya adalah 252 H,
sedangkan Massignon menunjuk tahun 260 H, suatu pendapat yang juga diyakini
oleh Hendry Corbin dan Nellino. Sementara itu, Yaqub Al-Himawi mengatakan bahwa
Al-Kindi wafat sesudah berusia 80 tahun atau lebih.
2. Karya
Tulisnya
Al-Kindi selain seorang yang aktif terlibat dalam
kegiatan penterjemahan buku-buku Yunani dan sekaligus ia melakukan koraksi
serta perbaikan atas terjemahan orang lain, juga termasuk seorang yang kreatif
dan produktif dalam kegiatan tulis menulis. Tulisannya cukup banyak dalam
berbagai disiplin ilmu. Akan tetapi, kebanyakan karya tulisnya telah hilang
sehingga sulit menjelaskan berapa jumlah karya tulisnya. Namun sebagian dari
risalah Al-Kindi yang hilang tersebut ditemukan kembali. Dalam Ensiklopedi
Islam disebutkan bahwa karya-karya al-Kindi
berjumlah 270 buah, kebanyakan di antaranya risalah-risalah pendek dan banyak di antaranya yang sudah tidak ditemukan
lagi. Risalah-risalah itu, baik oleh ibnu Nadim maupun Qifthi, dikelompokkan
kedalam 17 kelompok, yaitu 1. Filsafat, 2. Logika, 3. Ilmu hitung, 4. Globular,
5. Music, 6. Astronomi, 7. Geometri, 8. Sperikal, 9. Medis, 10. Astrologi, 11.
Dialektika, 12. Psikologi, 13. Politik, 14. Meteorology, 15. Dimensi, 16.
Benda-benda pertama, 17. Spesies tertentu logam dan kimia. Untuk lebih jelasnya
di bawah ini dikemukakan beberapa karya tulis al-Kindi.
1. Fi
al-falsafat al-‘Ula
2. Kitab
al-Hassi ‘ala Ta’allum al-Falsafat
3. Risalat ila
al-Ma’mun fi al-‘illat wa Ma’lul
4. Risalah fi
Ta’lil al-A’dad
5. Kitab
al-falsafat al-Dakhilat wa al-Masail al-Manthiqiyyah wa al-Mu’tashash wa ma
fauqa al-Thabi’iyyat.
6. Kammiyat
Kutub Aristoteles
7. Fi al-Nafs
Melalui karya-karyanya, al-Kindi dapat diketahui
sebagai seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam. Bahkan, beberapa
karya tulisnya telah diterjemahkan oleh Gerard Cremona ke dalam bahasa Latin,
yang sangat mempengaruhi pemikiran Eropa pada abad pertengahan.
3. Perpaduan
Filsafat dan Agama
Al-Kindi adalah sebagai perintis filasafat murni dalam
dunia Islam. Al-Kindi memandang filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang mulia,
yaitu ilmu pengetahuan mengenai sebab dan realitas Ilahi yang pertama dan
merupakan sebab dari semua realitas lainnya. Ia melukiskan filsafat sebagai
ilmu dan kearifan dari segala kearifan. Filsafat bertujuan untuk memperkuat
kedudukan agama dan merupakan bagian dari kebudayaan Islam.
Dalam risalahnya yang ditujukan kepada al-Mu’tasim ia
menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang termulia serta terbaik dan yang
tidak bisa ditinggalkan oleh setiap orang yang berfikir. Kata-katanya ini
ditujukan kepada mereka yang menentang filsafat dan mengingkarinya, karena
dianggapnya sebagai ilmu-kafir dan menyiapkan jalan menuju kekafiran. Sikap
mereka inilah yang selalu menjadi rintangan bagi filosof-filosof Islam,
terutama pada masa Ibn Rusyd.
Kemudian menurut al-Kindi, filsafat adalah pengetahuan
kepada yang benar (knowledge of truth). Al-Qur’an yang membawa
argumen-argumen yang lebih meyakinkan dan benar tidak mungkin bertentangan
dengan kebenaran yang dihasilkan filsafat. Agama di samping menerangkan wahyu
juga mempergunakan akal, dan filsafat mempergunakan akal. Wahyu tidak
bertentangan dengan filsafat, hanya argumentasi yang dikemukakan wahyu lebih
meyakinkan daripada argumen filsafat. Keduanya bertujuan untuk menerangkan apa
yang benar dan yang baik.
Bertemunya agama dan filsafat dalam kebenaran dan
kebaikan sekaligus menjadi tujuan dari keduanya. Dengan demikian, menurut al-Kindi,
orang yang menolak filsafat berarti mengingkari kebenaran. Ia mengibaratkan
orang yang mengingkari kebenaran tersebut tidak jauh berbeda dengan orang yang
memperdagangkan agama, dan orang itu pada hakekatnya tidak lagi beragama karena
ia telah menjual agamanya.
Menurut al-Kindi, kita tidak pada tempatnya malu
mengakui kebenaran dari mana saja sumbernya. Bagi mereka yang mengakui
kebenaran tidak ada suatu yang lebih tinggi nilainya selain kebenaran itu
sendiri dan tidak pernah meremahkan dan merendahkan orang yang menerima-nya.
Ilmu filsafat meliputi ketuhanan, keesaanNya, dan keutamaan serta ilmu-ilmu lain yang
mengajarkan bagaimana jalan memperoleh apa-apa yang bermamfaat dan menjauhkan
dari apa-apa yang mudharat. Hal ini juga dibawa oleh para rasul Allah, dan juga
mereka menetapkan keesaan Allah dan memastikan keutamaan yang diridhai-Nya.
Seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa tujuan
filsafat sejalan dengan ajaran yang dibawa oleh rasul. Oleh karena itu,
sekalipun ia datang dari Yunani, maka kita menurut al-Kindi, wajib
mempelajarinya, bahkan lebih jauh dari itu, kita wajib mencarinya.
Dalam usaha memadukan antara filsafat dan agama ini,
al-Kindi juga membawakan ayat-ayat al-Qur’an. Menurutnya menerima dan
mempelajari filsafat sejalan dengan ajaran al-Qur’an yang memerintahkan
pemeluknya untuk meneliti dan membahas segala fenomena di alam semesta ini. Di
antara ayat-ayatnya adalah sebagai berikut:
1.
Surat
Al-Nasyr [59]: 2
“.......Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang
yang mempunyai wawasan.”
2. Surat
Al-A’raf [7]: 185
“Dan Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan
segala sesuatu yang diciptakan Allah...”
3.
Surat Al-Ghasyiyah [88]: 17-20
“Maka Apakah mereka tidak
memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan dan langit, bagaimana ia
ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia
dihamparkan?”
4. Surat Al-Baqarah [2]: 164
“Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di
laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari
langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya
dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan
yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda
(keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
Dengan demikian
al-Kindi telah membuka pintu bagi penafsiran filosofis terhadap al-Qur’an,
sehingga menghasilkan antara wahyu dan akal dan antara filsafat dan agama.
Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa pemaduan antara filsafat dan agama
didasarkan pada tiga alasan berikut:
1. Ilmu agama bagian dari filsafat
2.
Wahyu yang diturunkan kepada nabi dan kebenaran
filsafat saling bersesuaian
3.
Menuntut ilmu secara logika diperintahkan oleh agama.
Al-Kindi juga
menghadapkan argumennya kepada orang-orang agama yang tidak senang dengan
filsafar dan filosof, jika ada orang yang mengatakan bahwa filsafat tidak
perlu, mereka harus memberikan argument dan menjelaskannya. Usaha pemberian
argument tersebut merupakan bagian dari pencarian pengetahuan tentang hakikat,
untuk sampai pada yang dimaksud, secara logika mereka harus memiliki
pengetahuan filsafat. Kesimpulannya bahwa filsafat harus dimiliki dan
dipelajari.
Dari paparan di
atas dapat disimpulkan hahwa al-Kindi merupakan pionir dalam melakukan usaha
pemaduan antara filsafat dengan agama atau antara akal dan wahyu. Dalam hal ini
dapat dikatan bahwa al-Kindi telah memainkan peranan yang besar dan penting di
pentas filsafat Islam, sehinga ia melapangkan jalan bagi para filosof Islam
yang datang kemudian.
4. Filsafat
Ketuhanan al-Kindi
Menurut al-Kindi
Allah adalah wujud yang sebenarnya, bukan berasal dari tiada kemudian ada, Ia
mustahil tidak ada dan akan ada selamanya. Allah adalah wujud yang sempurna dan
tidak didahului oleh wujud lain. Wujudnya tidak berakhir sedang wujud yang lain
disebabkan wujud-Nya. Ia adalah maha esa yang tidak ada dibagi-bagi dan tidak
ada zat lain yang menyamai-Nya dalam segala aspek, Ia tidak melahirkan dan
tidak dilahirkan.
Filsafatnya
tentang keesaan Tuhan selain didasarkan
pada wahyu juga pada proposisi filosofis. Menurut al-Kindi, Tuhan itu tidak
mempunyai hakikat, baik hakikat secara juziyyah atau aniyah (sebagian)
maupun hakikat secara kulliyah atau mahiyah (keseluruhan). Tuhan
bukan benda yang mempunyai sifat fisik dan tidak pula termasuk dalam
benda-benda di alam ini. Tuhan tidak tersusun dari materi (al-hayūla) dan bentuk (al-shūrat) tidak merupakan genus atau spesies. Tuhan adalah Pencipta (Khaliq).
Tuhan adalah Yang Maha Pertama (al-Haqq al-Awwal) dan Yang Maha Tunggal
(al-Haqq al-Wahid).
AL-Kindi juga menolak pendapat yang menganggap
sifat-sifat Tuhan itu berdiri sendiri. Tuhan haruslah merupakan keesaan mutlak.
Bukan keesaan metaforis yang hanya berlaku pada obyek-obyek yang dapat
ditangkap indera. Menurut Al-Kindi, Tuhan tidak memiliki sifat-sifat dan atribut-atribut
lain yang terpisah dengan-Nya, tetapi sifat-sifat dan atribut-atribut tersebut
haruslah tak terpisahkan dari Zat-Nya.
Al-Kindi juga menyatakan bahwa Allah itu hanya bisa
dilukiskan dengan kata-kata negative; Allah tidak sama dengan ciptaan-Nya,
Allah tidak berbentuk, Allah tidak berbilang, Allah tidak berbagi. Ia adalah
Maha Esa (wahdat) dan yang selainnya berbilang. Jadi Al-Kindi dalam
mengesakan Allah amat menekankan ketidak samaan-Nya dengan ciptaan-Nya.
Al-Kindi dalam membuktikan adanya Tuhan, ia memajukan tiga argument
yaitu:
1. Baharunya alam. Dalam hal ini al-Kindi mengemukkan
pertanyaan secara filosofis; apakah mungkin sesuatu menjadi penyebab bagi wujud
dirinya? Dengan tegas al-Kindi menjawab; tidak mungkin, karena alam ini mempunyai
permulaan waktu, setiap yang mempunyai permulaan akan ada sesudahnya, justru
itu setiap benda atau alam pasti ada yang mewujudkannya, mustahil benda itu
sendiri yang menjadi penyebabnya. Maka yang mewujudkannya itulah Tuhan.
2.
Keaneka ragaman dalam wujud. Menurut
al-Kindi dalam alam empiris ini tidak mungkin ada keanekaragaman tanpa ada
keseragaman atau sebaliknya. Terjadinya keanekaragaman dan keragaman ini bukan
sekedar kebetulan, tetapi ada yang menyebabkan dan yang merancangnya. Sebagai penyebabnya
mustahil alam itu sendiri.kalau penyebabnya alam itu sendiri, maka akan terjadi
rangkaian yang tidak akan habis-habisnya. Sementara sesuatu yang tidak berakhir
tidak mungkin terjadi. Karena harus ada ‘illat atau syarat yang berada
di luar alam itu sendiri. Itulah Tuhan Allah SWT.
3.
Kerapian alam. menurut al-Kindi
bahwa alam empiris ini tidak mungkin terkendali dan teratur tanpa ada yang
mengatur. Pengendali dan pengatur tentu berada di luar alam. Zat itu tidak
terlihat pada ala mini. Itulah adanya Tuhan.
5. Filsafat
Jiwa (Al-Nafs) al-Kindi
Didalam
al-Qur’an dan hadits Nabi SAW, tidak menjelaskan secara tegas tentang roh atau
jiwa. Bahkan Al-Qur’an sebagai sumber pokok ajaran Islam menginformasikan bahwa
manusia tidak akan mengetahui hakikat roh karena itu adalah urusan Allah bukan
urusan manusia. Oleh karena itu kaum filosof Muslim membahas jiwa
mendasarkannya pada filsafat jiwa yang dikemukakan oleh filosof Yunani,
kemudian mereka selaraskan dengan ajaran Islam.
Jiwa atau roh
adalah salah satu pokok pembahasan al-Kindi, bahkan al-Kindi adalah filsuf
Muslim pertama yang membahas hakikat roh secara terperinci. Al-Kindi berpendapat bahwa roh mempunyai
esensi dan eksistensi yang terpisah dengan tubuh dan tidak tergantung satu sama
lainnya. Jiwa bersifat rohani dan Ilahy. Sementara itu jisim mempunyai hawa
nafsu dan marah. Al-Kindi juga mengatakan bahwa jiwa adalah jauhar basith (
tunggal, tidak tersusun, tidak panjang, dalam dan lebar). Jiwa mempunyai arti
penting, sempurna, dan mulia. Substansi (jauhar)-nya berasal sari
sustansi Allah. Hubungannya dengan Allah sama dengan hubungan cahaya dengan
matahari.
Argument
tentang beda jiwa dengan badan, menurut al-Kindi adalah jiwa menentang
keinginan hawa nafsu. Apabila nafsu marah mendorong menusia untuk melakukan
kejahatan, maka jiwa yang menentangnya. Hal ini dapat dijadikan indikasi bahwa
jiwa sebagai yang melarang tentu tidak sama dengan hawa nafsu sebagai yang
dilarang.
Dalam hal ini
pendapat al-Kindi lebih dekat dengan pendapat Plato yang mengatakan bahwa
kesatuan antara jiwa dan badan adalah kesatuan accident, binasanya badan
tidak membawa binasa pada jiwa, namun ia tidak menerima pendapat Plato yang
mengatakan bahwa jiwa berasal dari alam idea.
Al-Kindi
membagi jiwa atau roh ke dalam tiga daya, yaitu daya bernafsu (al-quwwah
asy-syahwaniyah) yang terdapat di perut, daya pemarah (al-quwwah
al-gadabiyah) yang terdapat di dada, dan daya berfikir (al-quwwah
al-natiqah) yang berpusat di kepala. Daya yang terpenting adalah daya
berfikir, karena daya itulah yang mengangkat eksistensi manusia kederajat yang
lebih tinggi.
Al-Kindi
membandingkan daya bernafsu pada manusia dengan babi, daya marah dengan anjing,
dan daya pikir dengan malaikat. Jadi, orang yang dikuasai oleh daya bernafsu,
tujuan hidupnya seperti yang dimiliki oleh babi, siapa yang dikuasai oleh nafsu
marah, ia bersifat seperti anjing, dan siapa yang dikuasai oleh daya pikir, ia
akan mengetahui hakikat-hakikat dan menjadi manusia utama yang hampir
menyerupai sifat Allah, seperti bijaksana, adil, pemurah, baik, mengutamakan
kebenaran dan keindahan.
Selanjutnya
Al-Kindi membagi akal pada empat macam; satu berada di luar jiwa manusia dan
yang tiga lagi berada di dalamnya.
1.
Akal yang selamanya dalam aktualitas
(al-‘aql al-lazi bi al-fi’il Abadan). Akal pertama ini berada di luar
jiwa manusia, bersifat Ilahi, dan selamanya dalam aktualitas.
2.
Akal bersifat potensial (al-aql
bi al-quwwah), yakni akal murni yang ada dalam dalam diri manusia yang
masih berupa potensi dan belum menerima bentuk-bentuk indrawi dan yang akali.
3.
Akal yang bersifat perolehan (acquired
intellect). Ini adalah akal yang telah keluar dari potensialitas ke dalam
aktualitas, dan mulai memperlihatkan pemikiran abstraksinya.
4.
Akal yang berada dalam keadaan actual
nyata, ketika ia nyata, maka ia disebut akal “yang kedua”. Akal dalam bentuk
ini merupakan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas. Ia dapat
diibaratkan dengan proses penulisan kalau seseorang sunguh-sungguh melakukan
penulisan.
Menurut
al-Kindi, tidak semua roh yang lanjut pergi ke alam kebenaran, hanya roh yang
telah suci saja yang bisa mencapainya. Al-Kindi tanpaknya tidak percaya dengan
kekekalan hukuman terhadap jiwa, tetapi meyakini bahwa pada akhirnya jiwa akan
memperoleh keselamatan dan naik ke alam akal yang berada di lingkungan cahaya
Tuhan. Roh yang telah memasuk wilayah tersebut telah dapat melihat Tuhan.
Karena itu senantiasa roh mendambakan penyatuan kembali dengan sumbernya. Roh
yang bersihlah dapat menyatu dengan sumbernya. Menurutnya roh yang kotor harus
dibersihkan dulu ke bulan, kemudian lanjut ke Mercurius dan seterusnya hingga
sampai ke alam akal yang berada dilingkuangan cahaya Tuhan dan melihat Tuhan.
B. Al-Farabi ( 258-339 H/870-950 M )
1.
Biografinya :
Nama lengkapnya ialah Abu Nasr Muhammad bin
Muhammad bin Tharkhan, lahir di wasij, distrik Farab, Turkestan dari seorang
Ayah Persia dan Ibu Turki. Karena itu, berbeda dengan Al-Kindi, Al-Farabi bukan
keturunan Arab, melainkan keturunan
Persia-Turki. Beliau di kenal juga dengan nama Abu Nasher, atau Avempes dalam
literatur Barat.
Seagi
Anak pejabat Al-Farabi memperoleh pendidikan berbagai disiplin ilmu, yaitu
bahasa, sastra, logika, filsafat kepada Guru-guru terkenal, Seperti Abu Bakar
Al-Saraj, bisyh Mattius bin Yunus, Yuhana Ibn Hailam dll. Awal karirnya bermula
ia berkenalan dengan sultan dinasti Hamadan di Aleppo, yaitu Syaifud Daulah
al-Hamdani. Perkenalan ini membawanya sebagai ulama Istana, Di sinilah ia
mengembangkan aktivitas filsafanya. Namun karena pertentangan politik ia keluar
dari istana samapi ai wafat dalam usia
80 Tahun.
2.
Karya-karyanya:
Beliau
adalah Filsuf besar muslim yang banyak menyusun karya Filsafat, bahkan
memadukan beberapa kejanggalan-kejanggalan, terutama antara Plato dan
Aristoteles. Pemikiran ini di tulis dalam buku Al-Jam’u Bayna R’yay al-
ahakimayn; Aflaton wa Aristo. Ulasannya yang mendalam terhadap karya
Aristoteles menyebabkan ia di gelar sebagai Aristoteles ke dua (Aristo
Al-tsaniy).
Selain
karya di atas, karya penting lainnya ialah :
a.
Ara’u Ahl
Madinah al-fadhilah, kajian tentang politik.
b.
Maqalat fi
Ma’ani al-Aql, berisi ulasan tentang Akal
c.
Al-Ibanah’An
Ghadhi Aristo fi Kitabi Ma Ba’da al-Thabi’ah. Berisikan tentang ulasan mengenai Metafisika
Aristoteles.
d.
Al-Masa’il al-
Falsafiyah wa Ajiwibah’Anha, berisikan tentang kajian Filsafat.
e.
Dan Lain-lain.
3.
Pemikirannya :
Seperti
di jelaskan di atas, pemikiran Al-Farabi mencangkup beberapa aspek, namun di
batasai pada tiga masalah utama, sebagai berikut :
1.
Kesatuan
Filsafat
Menurut Al-Farabi, pemikiran para filsuf Yunani (khususnya Plato
dan Aristoteles) pada hakikatnya merupakan suatu ksatuan yang sistematik,
sehingga tidak terdapat pertentangan di antara kedua tokoh tersebut. Pemikiran
ini di tuangkan kedalam karyanya, Al-jam’u Bayna Ra’yay al-Hakimyn : Afalton
wa Aristo.
2. Ketuhanan
Membicaarakan ketuhanan Al-Farabi mengtakan :
“Allah adalah wujud yang tidak mempunyai hole (benda) dan tidak mempunyai form
(bentuk) yang sifatnya asli dan tanpa permulaan, serta selalu ada tiada akhir.
Untuk membuktikan kesempurnaan wujud tuhan, Al-Farabi membagi wujud dalam dua
tingkatan yaitu :
· Wujud yang ada
atau mungkin ada karena/ di sebabkan yang lainnya,(al-wujud bighairi)
· Wujud yang
mengada dengan sendirinya,( al-wujud binafsihi).
4.
Penciptaan
Alam (Emanasi)
Permasalahan
yang muncul di dalam kajian penciptaan Alam ialah, Apakah alam muncul langsung
dari tuhan atau tidak, kemudian Apakah Alam di ciptakan dari tiada atau dari
suatu yang ada. Al-Farabi menyatakan bahwa Alam berasal dari Tuhan, namun
melalui beberapa tahapan, karena alam berasal dari tuhan, maka Alam di ciptakan
bukan dari tiada melainkan dari suatu
potensi (esensi) yang sudah ada, langsung dari tuhan.
Rumusan
itu tertuang dalam teori Emanasi atau teori Urutan-urutan wujud.
Tuhan
(akal murni), memikirkan dirinya = Akal Pertama
Akal ke 1, memikirkan
Tuhan = Akal ke 2 (Wujud
ke-1)
memikikan
dirinya =Langit Pertama
Akal ke 2 memikirkan Akal ke 2 = Akal ke 3 (Wujud ke 2)
Memikirkan
dirinya = Bintang-bntang
Akal ke 3 memikirkan Akal ke 2 = Akal ke 4 (Wujud ke 3)
Memikirkan
dirinya = Saturnus
Akal ke 4 memikirkan Akal ke 3 = Akal ke 5 ( Wujud ke 4)
Memikirkan
dirinya = Jupiter
Akal ke 5 memikirkan Akal ke 4 = Akal ke 6 ( Wujud ke 5)
Memikirkan
dirinya = Mars
Akal ke 6 memikirkan Akal ke 5 = Akal ke 7 (Wujud ke 6)
Memikirkan
dirinya = Matahari
Akal ke 7 memikirkan Akal ke 6 = Akal ke 8 (Wujud ke 7)
Memikirkan
dirinya = Venus
Akal ke 8 memikirkan Akal ke 7 = Akal ke 9 (Wujud ke 8)
Memikirkan
dirinya =Merkurius
Akal ke 9 memikirkan Akal ke 8 = Akal ke 10 (Wujud ke 9)
Memikirkan
dirinya = Bulan
Akal
ke 10 memikirkan Akal ke 9 =
tidak memikirkan akal lain
Memikirkan
dirinya = Bumi, Api, air,
udara dan tanah.
Dari
teori di atas terdapat sembilan akal
dan sepuluh wujud yang membatasi tuhan
dengan alam semesta, melalui teori ini ada dua hal yang ingin di tampilkan
Al-Farabi.
a.
Al-Farabi
menyatakan bahwa di antara tuhan dengan manusia terdapat jarak yang sangat
jauh. dengan adanya jarak ini keesaan tuhan tetap utuh. Al-Farabi tetap
berpegang pada asa bahwa dari yang satu pasti satu yang muncul.
b.
Melalui teori
ini pula, Al-Farabi berupaya sejalan dengan ajaran islam tentang adanya
permulaan ciptaan.
5.
Negara Ideal
(al-Madinah al-Fadhilah)
Sebagai
pemikir Universal, kajian mengenai negara tidak luput dari pemikiran Al-Farabi,
menurutnya, negara sama saja dengan tubuh manusia yang mempunyai kepala, badan,
tangan, kaki, jantung, dan lain-lain. Dari semua unsur yang paling penting
ialah kepala yang di ibaratkan Al-Farabi sebagai kepala negara yang ideal ialah yang di perinatah oleh kepala
negara yang memiliki aneka kualifikasi yaitu cerdas, memiliki ingatan yang
baik, pikiran yang tajam, mencintai pengetahuan, mencintai kejujuran, murah
hati, sederhana, mencintai keadilan, pemberani, sehat jasmani, dan pandai
berbicara.
Semua
karakter ini ada pada Nabi, namun karena nabi sudah tida, posisinya di gantikan
oleh filsuf. Oleh karena itu, jabatan kepala negara ideal harus di pegang oleh
Filsuf. Menurut Al-Farabi, selain negara ideal di atas terdapat empat bentuk
negara lainnya, yaitu :
a.
Negara Jahil ( المد ينة اهلة ).
b.
Negara Fasik ( المد ينة الفا سقة ).
c.
Negara Sesat ( المد ينة الضا لة ).
d.
Negara yang
Berubah ( المد ينة المتبد لة
).
C. Perbandingan Filsafat Al
Kindi dan Al Farabi
1. Filsafat Al Kindi
Al Kindi berusaha memadukan anatara filsafat dan agama. Filsafat
berdasarkan akal pikiran adalah pengetahuan yang benar (knowledge of truth), al
Quran yang membawa argument-argumen yang lebih meyakinkan dan benar tidak
mungkin bertentangan dengan kebenaran yang dihasilkan filsafat. Karena itu
mempelajari filsafat dan berfilsafat tidak dilarang, bahkan berteologi adalah
bagian dari filsafat, sedangkan Islam mewajibkan mempelajari Teologi
Bertemunya filsafat dan agama dalam kebenaran deamn kebaikan sekaligus
menjadi tujuan dari keduanya. Agama disamping wahyu mempergunakan akal dan
filsafat juga mempergunakan akal. Yang benar pertama (the first Truth) bagi Al
kindi ialah Tuhan. Keselarasan antara filsafat dan agama didasarkan pada tiga
hal yaitu :
1. Ilmu agama merupakan bagaian dari filsafat
2. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan filsafat, saling
berkesuaian
3. Menuntut ilmu, secara logika diperintahkan dalam agama
a. Filsafat Metafisika
Tuhan dalam filsafat al kindi tidak mempunyai hakiakat dalam arti aniah
atau mahaniah. Tidak aniah karena kerena Tuhan tidak termasuk dealam
benda-benda yang ada dalam alam, bahkan Ia adalah pencipta alam. Ia tidak
tersususn dari materi dan bentuk, juga tidak mempunya hakiakat dalam bentuk
mahaniah, karena Tuhan bukan merupakan gensus dan species. Tuhan hanya satu,
tidak ada yang serupa dengan-Nya. Tuhan adalah unik, Ia semata-mata satu. Hanya
Ia lah yang satu dari pada-Nya mengandung arti banyak
b. Filsafat Jiwa
Menurut Al Kindi, roh itu tidak tersususn, mempunyai arti penting,
sempurna dan mulia. Substansi roh berasal dari substansi Tuhan. Hubungan roh
dengan Tuhan sama dengan hubungan cahaya dengan matahari. Selain itu jiwa
bersifat spiritual, Ilahiah, terpisah sdan berbeda dari tubuh. Roh adalah lain
dari badan dan mempunyai wujud sendiri. Keadaan badan (jasmanni) mempunyai hawa
nafsu dan sifat pemarah (passion). Roh menentang keinginan hawa nafsu dan passion.
2. Filsafat Al-Farabi
Al Farabi berusaha memadukan beberapa aliran filsafat fal safah al
taufiqhiyah atau wahdah ala falsafah yang bebrkembang sebelumnya, terutama
pemikiran Plato, Aristoteles, dan Plotinus, juga antara agama dan filsafat.
a. Talfiq
Dalam ilmu logika dan fisika Ia dipengaruhi oleh Aristoteles, dalam masal;ah akhlak dan politik ia dipengaruhi oleh Plato, sedangkan dalam persoalan metafisika ia di pengaruhi oleh Plotinus. Al farabi berpandapat bahwa pada hakikatnya filsafat itu adalah satu kesatuan, oleh karena itu para filosof besar harus menyatujui bahwa satu-satunya tujuan adalah mencari kebenaran.
Dalam ilmu logika dan fisika Ia dipengaruhi oleh Aristoteles, dalam masal;ah akhlak dan politik ia dipengaruhi oleh Plato, sedangkan dalam persoalan metafisika ia di pengaruhi oleh Plotinus. Al farabi berpandapat bahwa pada hakikatnya filsafat itu adalah satu kesatuan, oleh karena itu para filosof besar harus menyatujui bahwa satu-satunya tujuan adalah mencari kebenaran.
b. Metafisika
Wajib al wujud a dalah tidak boleh tidak ada, ada dengan sendirinya, esensi dan wujudnya adalah sama dan satu. Ia adalah wujud yang sempurna selamanya dan tidak didahului oleh tiada.jika wujud ini tidak ada, maka timbul kemustahilan, karena wujud lain untuk adanya tergantung kepadanya. Inilah yang disebut dengan Tuhan. Sedangkan mumkin al wujud adalah sesuatu yang sama antara berwujud dan tidaknya. Mumkin al wujud tidak akan berubah menjadi actual tanpa adanya wuijud yang menguatkan, dan dan yang menguatkan itu bukan dirinya tetapi wajib al wujud.
Wajib al wujud a dalah tidak boleh tidak ada, ada dengan sendirinya, esensi dan wujudnya adalah sama dan satu. Ia adalah wujud yang sempurna selamanya dan tidak didahului oleh tiada.jika wujud ini tidak ada, maka timbul kemustahilan, karena wujud lain untuk adanya tergantung kepadanya. Inilah yang disebut dengan Tuhan. Sedangkan mumkin al wujud adalah sesuatu yang sama antara berwujud dan tidaknya. Mumkin al wujud tidak akan berubah menjadi actual tanpa adanya wuijud yang menguatkan, dan dan yang menguatkan itu bukan dirinya tetapi wajib al wujud.
c. Jiwa
Pendapat al Farabi tentang jiwa dip[engaruhi oleh filsafat Plato, Aristoteles, dan Plotinus. Jiwa bersifat rohani, bukan materi, terwujud setelah adanya badan dan jiwa, tidak berpindah-pindah dari sutau badan ke badan yang lainnya. Jiwa manusia disebut al nafs al nathiqoh, yang bersal dari alam ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khalaq, berbentuk, berupa, berkadar, dan bergerak. Jiwa dicuiptakan tatkala jasad siap menerimanya.
Pendapat al Farabi tentang jiwa dip[engaruhi oleh filsafat Plato, Aristoteles, dan Plotinus. Jiwa bersifat rohani, bukan materi, terwujud setelah adanya badan dan jiwa, tidak berpindah-pindah dari sutau badan ke badan yang lainnya. Jiwa manusia disebut al nafs al nathiqoh, yang bersal dari alam ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khalaq, berbentuk, berupa, berkadar, dan bergerak. Jiwa dicuiptakan tatkala jasad siap menerimanya.
d. Politik
Pemikiran al Farabi tentang politik yang amat penting ialah tentang politik yang dia tuangkan kedalam dua karyanya, al siyasah al madaniyyah (pemerintahan politik) dan ara ala madinah al fadhilah (pendapaf-pendapat tentang Negara utama). Menurut al Farabi yang terpenting dalam Negara adalah pimpanan atau penguasanya, bersama sama bawahannya sebagaimana halnya jantung dan organ tubuh yahng lebih rendah secara berturut-turut.
Pemikiran al Farabi tentang politik yang amat penting ialah tentang politik yang dia tuangkan kedalam dua karyanya, al siyasah al madaniyyah (pemerintahan politik) dan ara ala madinah al fadhilah (pendapaf-pendapat tentang Negara utama). Menurut al Farabi yang terpenting dalam Negara adalah pimpanan atau penguasanya, bersama sama bawahannya sebagaimana halnya jantung dan organ tubuh yahng lebih rendah secara berturut-turut.
e. Moral
Al Farabi menekankan empat jenis sifat utama yang harus menjadi perhatian untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi bangsa-bangsa dan setiap warga Negara. Yakni :
Al Farabi menekankan empat jenis sifat utama yang harus menjadi perhatian untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi bangsa-bangsa dan setiap warga Negara. Yakni :
1. keutamaan teoritis yaitu prinsip-prinsip pengetahuna yang
diperoleh sejak awal tanpa diketahui cara dan asalnya, juga yang diperoleh
dengan cara kontemplasi, penelitian,dan melalui belajar dan mengajar.
2. keutamaan pemikiran yaitu yang memungkinkan orang mengetahui
hal-hal yang bermanfaat dalam tujuan.
3. keutamaan akhlak , bertujuan mencari kebaikan
4. kautamaan amaliyah, diperoleh dengan dua cara, yaitu
pernyataan-pernyataan yang memuaskan dan merangsang.
f. Teori Kenabian
Teori
kenabian yang di ajukan al Farabi di motifisir pemikiran filosof pada masanya
yang mengingkari kesistensi kenabian oleh Ahmad ibn Ishaq al Ruwandi yang
berkebangsaan yahudidab Abu baker Muhammad ibn Zakariya al Razi. Menurut mereka
para sufi berkemampuan untuk mengadakan komunikasi dengan aql Faal.
DAFTAR PUSTAKA
http://makalahpendidikan.blogdetik.com/pengertian-ilmu-filsafat-pendidikan-islam/
Musthofa, Ahmad. 1997. Filsafat Islam. Bandung: CV. PUSTAKA
SETIA.
Aceh, Aboebakar, sejarah Filsafat Islam, Solo:
Ramadhani, 1968.
Drajat, Amroeni, Filsafat Islam, Jakarta: Penerbit
Erlangga, 2006.
Hanafi, Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta:
Bulan Bintang, 1968.
Hakim, Atang Abdul dan Saebani, Beni Ahmad, Filsafat
Umum, Bandung: CV Pustaka Setia, 2008
No comments:
Post a Comment